Kamis, 20 September 2012

Perempuan Sebagai Pemimpin ?




Yaaah, gue baru aja berselancar di salah satu blog yg menurut gue asik, menarik, dan inspiratif. Namun, tak sampe disitu, tangan gue tiba-tiba mendapatkan intsruksi dari otak untuk ngeklik suatu artikel akibat ngeliat stimulus tentang walikota perempuan yang usianya belasan tahun di salah satu kota di Negara Palestina. Hmmm, sampe sekarang gue masih menelusuri tentang walikota tersebut. Jujur, gue gak ngiri sama sekali ngeliat kesuksesan dia sbg kepala daerah di usia yang begitu muda, usianya terpaut 5 tahun lebih muda dibanding gue padahal. Namun, yang bikin gue excited adalah pertanyaan-pertanyaan yang hilir mudik di kepala gue.

Sumpah, kepikiran terus mengapa Negara Islam sekaliber Palestina salah satu kotanya dipimpin oleh perempuan, dibawah umur pula? Motif apa yang terselubung di dalamnya?

Hmmm, pertanyaan itu kembali bolak balik bak setrikan menghantui kepala gue. Gue gak berani asbun juga mengenai motif dia menjadi walikota. Telisik punya telisik, ternyata dia jadi walikota karena menantang walikota yang sesungguhnya untuk tuker posisi gitu. Dia adalah ketua suatu organisasi di kota tersebut. Nah akhirnya dia dikasih waktu 1 minggu untuk tuker posisi menggantikan walikota. Ternyata kinerjanya bagus sehingga diperpanjang deh hingga dua bulan berikutnya.

Tapipi gue cuma mau beberin dikit gimana sih jika pemimpin itu adalah seorang perempuan.

Okeh. Cekidot.

1.       Dalam agama gue, yang namanya pemimpin itu ya laki-laki, kenapa? Kalau gue tunjukin Al-Qur’an gue harap gk ada yang ngebantah ye, soalnya Al-Qur’an itu sudah sedemikian sempurna yang diberikan Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai wahyu sebagai pedoman umat islam anywhere anytime gitu.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka......”

Noh, itu potongan ayat 34 dari Surat An-Nisa dan disana menunjukkan bahwa yang namanya laki-lakilah yang berhak jadi pemimpin.

Masih belum puas dan nyinyir aja.

Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari)

Harap underlined tuh kata “tidak beruntung” artinya bahwa keberuntungan hanya akan diberikan pada kaum yang menyerahkan urusan kepemimpinan pada laki-laki. Beruntung juga mempunyai makna yang luas lo, bisa dalam arti beruntung dalam sehat, sejahtera, dihindarkan dr musibah, dsb.

IMO, dua dalil tersebut sudah cukup mewakili bahwa yang namanya pemimpin ya laki. :)

Kalau masih manyun-manyun dan hendak protes, hmm gue yang balik nanya ya? :)
a.      Apakah ada Nabi dan Rasul perempuan ?
b.      Apakah ada imam sholat perempuan, kecuali makmumnya juga perempuan semua ya ?

Setau gue, cmiiw ya, gak ada tuh Nabi dan Rasul yang berjenis kelamin perempuan, hal ini sesuai dengan beberapa ayat di Al-Qur’an, cek ya 

“Kami tiada mengutus Rasul-rasul sebelum kamu, melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. “ (Qs. Al-Anbiyaa’ 21:7)

 “Dan kalau Kami bermaksud menjadikan Rasul itu dari golongan malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki.” (Qs.al-An’aam 6:9)

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk suatu negeri.”  (Qs. Yusuf 12:109)

Nah terus ada gitu imam perempuan ? Setau gue pun gk ada ya, kecuali ya itu tadi, kalau makmumnya semuanya perempuan. Ada aturannya juga loh : Imam dalam sholat tidak boleh wanita, kecuali makmumnya juga wanita (berdasarkan Imam Hanafi, Syafi’I, Hambali dan Ja’fari/ Imammiah)

Masih juga mungkir ya?
Hmmm, kalaupun berpikiran sekuler, gue akan bahas berdasarkan psikologisnya.

2.       Secara psikologis, wanita itu lebih menggunakan perasaan daripada logikanya. Ini fakta.
Secara psikologis, wanita membutuhkan pemimpin yang berada disampingnya. Ini nyata.
Secara psikologis, laki-laki lebih tepat dalam pengambilan keputusan drpd wanita. Okesip
3 hal diatas memang nyata adanya real kondisi semua wanita, bahwa sekuat-kuatnya wanita tentu ada titik lemahnya yang bakal dan mudah sekali ciut yaitu perasaan.

Back to topic ya, bahas tentang Walikota perempuan yang di Palestina itu yang berusia 15 tahun.

15 tahun adalah masa remaja, yang pada masa itu disebut masa transisi untuk menjadi dewasa dari anak-anak(Hurlock, 2002). Pada masa ini, seorang remaja sedang mencari jati dirinya hendak menjadi apa di masa depan, sedang mencari itu artinya belum menjadi ya :). Selain itu Santrock (2002) dalam bukunya Life Span Development mengemukakan bahwa pada masa ini penuh kelabilan emosi yang biasa disebut stress and stroms periode.
Jadi sekarang gue mau tanya apa, bagaimanakah suatu pemerintahan dipimpin oleh perempuan yang sedang masa labilnya, kecuali ada beking kuat dibelakangnya. :)


Gue nulis ini sekali lagi bukan karena gue underestimate sama walikota itu, apalagi gue iri ya, karena gue mau ngajak kalian berpikir aja sih, bahwa Negara islam sekaliber Palestina aja bisa dirasuki oleh perang pemikiran gwazulfikri seperti feminisme dan kesetaraan gender. Nah, apalagi Indonesia? Apalagi diri kita?
So berhati-hatilah pada pemberitaan media yang mungkin agak tendensius dan mempunyai misi tersirat di dalamnya. Kita sebagai generasi Rabbani yang memegang teguh panji islam semoga senantiasa mampu berpikir jernih dan keukeuh pada pedoman kita yaitu Al-Qur’an dan Assunah.

***ini gue tulis karena gue agak gimana gitu ketika denger beginian : “nah, dipalestin aja cewek pemimpinnya, mampu tuh, kok di Indonesia masih gk bisa nerima ya?”






Tidak ada komentar:

Posting Komentar